Tanggal Posting

March 2012
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Aktifitas


Penyimpangan Seksual

Penulis: Islisyah Asman

(Waria dan Homoseksual; Sex Sesama Jenis dan Kaum Lesbian)

Pengantar

Allah ‘Azza wa Jalla  berfirman:

 

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّن الْعَالَمِينَ

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاء بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ

وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَن قَالُواْ أَخْرِجُوهُم مِّن قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

فَأَنجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلاَّ امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِم مَّطَرًا فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ


“Luth ketika berkata kepada kaumnya: mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: ‘Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.’ Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu” (QS. Al-A’raaf:80-84).


فَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ

مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim” (QS. Hud:82-83).

Penyimpangan seksual yang dimaksudkan adalah ada pada diri Waria dan Homoseksual. Menurut Wikipedia berbahasa Indonesia, Waria adalah (portmanteau  dari wanita-pria) atau wadam (dari hawa-adam), yakni: laki-laki yang lebih suka berperan sebagai perempuan dalam kehidupannya sehari-hari.

Keberadaan waria telah tercatat lama dalam sejarah dan memiliki posisi yang berbeda-beda dalam setiap masyarakat. Walaupun dapat terkait dengan kondisi fisik seseorang, gejala waria adalah bagian dari aspek sosial transgenderisme. Seorang laki-laki memilih menjadi waria dapat terkait dengan keadaan biologisnya (hermafroditisme), orientasi seksual (homoseksualitas), maupun akibat pengkondisian lingkungan pergaulan. Selain itu, ada sebutan bencong atau banci juga dikenakan terhadap waria dan ini sebutan berkonotasi negatif.


Menentukan Jenis Kelamin Waria dalam Islam 

Imam Al-Kasani Rahimahullah  menjelaskan tentang hukum waria (yang sejak lahir memiliki kelamin ganda) dengan mengatakan, bahwa waria adalah orang yang memiliki alat kelamin laki-laki dan wanita; padahal tidak mungkin dalam diri seseorang mempunyai kepribadian laki-laki sekaligus wanita. Akan tetapi, bisa jadi ia seorang laki-laki atau wanita. Untuk mengetahui apakah dia seorang laki-laki atau wanita bisa melalui tanda-tandanya. Di antara tanda-tanda laki-laki setelah baligh  adalah: tumbuhnya kumis, jenggot, volume suara yang membesar, fisik /badannya ‘lebih kasar’, dan sebagainya.

Sedangkan tanda-tanda wanita setelah dewasa adalah: tumbuhnya payudara, mengeluarkan susu dari payudara itu, haid, dan melahirkan. Hal itu dikarenakan setiap jenis dari yang disebutkan di atas memiliki ciri khusus; baik pada laki-laki maupun wanita yang memisahkan antara keduanya.

Adapun tanda-tanda pada saat masih anak-anak, maka dapat dilihat pada tempat buang air seninya, berdasarkan Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Waria dilihat dari tempat buang air seninya.”

Apabila saat ia buang air seninya keluar dari alat kelamin laki-laki, maka ia adalah laki-laki. Dan apabila keluar dari alat kalamin wanitanya, maka ia adalah seorang wanita. Dan apabila air seninya keluar dari kedua-duanya, maka lihat dari mana yang lebih dahulu keluar, karena tempat yang lebih dahulu mengeluarkan air seni itu adalah tempat keluar yang asli; sedangkan keluar dari tempat yang lainnya adalah tanda kelainan.

Jika ternyata air seninya keluar secara bersamaan dari kedua tempat itu, maka Imam Abu Hanifah Rahimahullah  pun tidak berani memberikan komentar. Dia hanya mengatakan bahwa orang itu adalah khuntsa musykil  (waria yang sulit dikenali jenis kelaminnya), inilah kecerdasan fiqih Imam Abu Hanifah karena diam terhadap suatu hal yang tidak ada dalilnya adalah suatu kewajiban.

Imam Abu Yusuf dan Muhammad Rahimahumullah  mengatakan mengenai persoalan di atas, ditentukan dari banyaknya air seni, karena hal itu menujukkan tempat keluarnya yang asli. Dan ketika pendapat ini didengar oleh Imam Abu Hanifah maka dia tidak bisa menerimanya seraya mengatakan:

“Apakah engkau pernah melihat seorang hakim yang menimbang air seni.”

Kedua orang itu pun terdiam dan mengatakan:

“Kalau begitu dia adalah waria yang sulit dikenali jenis kelaminnya”.

Adapun terhadap seorang laki-laki yang memiliki organ-organ fisik yang lengkap kemudian memiliki kecenderungan kepada sifat kewanitaan, maka ini adalah perangai kejiwaan yang tidak memindahkannya kepada seorang wanita yang sebenarnya.

Namun terkadang, kecenderungan itu adalah hanya karena kemauan atau perbuatan/hawa nafsunya sendiri melalui cara meniru-niru, maka hal yang seperti itu akan jatuh ke dalam Hadits Rasulullah yang melaknat orang-orang yang memiliki jenis kelamin tertentu kemudian meniru-niru orang yang memiliki jenis kelamin lainnya.

Begitupula sebaliknya bagi wanita yang memiliki organ-organnya yang lengkap kemudian memiliki kecenderungan kepada sifat kelaki-lakian, maka ini adalah perangai kejiwaan yang tidak memindahkannya kepada seorang laki-laki yang sebenarnya.

Para ulama sepakat mengenai kelamin ganda yang ada sejak lahir, bahwa diperbolehkan baginya untuk melakukan operasi pemindahan kelamin dari laki-laki menjadi wanita atau dari wanita menjadi laki-laki; berdasarkan pemeriksaan dokter yang bisa dipercaya, dan dikarenakan adanya perubahan-perubahan fisik dalam tubuh yang ditunjukkan dengan tanda-tanda kewanitaan atau tanda-tanda kelaki-lakian yang tertutupi (tidak tampak). Pengobatan di sini haruslah dengan alasan penyembuhan tubuh yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan jalan operasi.

Akan tetapi, jika operasi yang dilakukan hanya sebatas untuk keinginan (kesenangan) merubahnya dan bukan karena adanya perubahan-perubahan fisik yang jelas dan dominan, maka hal itu tidak diperbolehkan. Dan jika ia tetap melakukannya maka orang itu akan termasuk ke dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  yang melaknat orang laki-laki yang berperangai seperti perempuan, dan orang perempuan yang berperangai seperti laki-laki. Dan kemudian berkata:

“Keluarkan mereka dari rumah-rumah kalian.”

 

Apakah Menjadi Waria itu Sebuah Kodrat?

Ario Pamungkas yang bernama waria Merlyn Sopjan pernah berkata:

“Kami tak pernah meminta dilahirkan sebagai waria.”

Bagi Ario, dengan mendandani diri seperti perempuan, ia mendapatkan kenikmatan bathin yang begitu dalam. Ia seolah-olah berhasil melepas beban psikologis yang selama ini masih memberatkannya (Republika, 29/10/2004).

Waria, menurut Pakar Kesehatan Masyarakat dan pemerhati waria dr.Mamoto Gultom, adalah:

“Subkomunitas dari manusia normal. Bukan sebuah gejala psikologis, tetapi sesuatu yang biologis. Kaum ini berada pada wilayah transgender: perempuan yang terperangkap dalam tubuh lelaki.” (Kompas, 07/04/2002).

Lalu, mengapa orang bisa menjadi waria? Menurut Guru Besar Psikologi UGM, Prof.Dr.Koentjoro:

“Menjadi waria bisa diakibatkan; bila peran ibu dalam mengasuh anaknya lebih besar dan memperlakukan anak laki-laki layaknya perempuan. Mungkin dalam kehidupan keluarga mayoritas perempuan, sehingga jiwa yang terbentuk adalah jiwa perempuan.” (Jawapos.com, 08/06/2005).

Boleh jadi pada diri laki-laki terdapat sisi feminin yang Allah Ta’ala  anugerahkan. Namun tentu saja tidak dengan alasan demikian seorang laki-laki dapat menjadi waria. Karena pada hakikatnya, seperti penuturan Prof.Dr.Koentjoro, kecenderungan menjadi waria lebih diakibatkan oleh salah asuh atau pengaruh lingkungan sekitarnya. Bukan penyakit turunan atau karena urusan genetik. Ini pun diakui oleh Merlyn Sopjan, seperti penuturannya di atas.

Parahnya lagi, pada saat ini dengan alasan Hak Azazi Manusia, serta opini yang dikembangkan oleh media massa tertentu membuat pilihan untuk menjadi waria adalah hal yang wajar dan normal. Mereka merasa, bahwa menjadi waria bukanlah sebuah penyimpangan, tapi hanya sebuah perbedaan yang terdapat pada diri manusia, sama seperti halnya orang yang cacat secara fisik. Sehingga mereka berusaha memperjuangkan haknya untuk diterima oleh masyarakat. Seperti yang terjadi di Papua pada tahun 1992-1997. Mereka berhasil memperjuangkan pencantuman “waria” pada kolom-kolom kartu tanda penduduk (KTP) mereka!

Padahal pilihan untuk menjadi waria bagi seorang Muslim, adalah pilihan buruk yang dilaknat oleh Allah ‘Azza wa Jalla  dan Rasul-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana dituturkan oleh Ibn Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, telah melaknat perilaku seperti itu:

“Rasulullah telah melaknat para laki-laki yang menyerupai para wanita, dan para wanita yang menyerupai para laki-laki.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).

Adanya kata-kata melaknat  dalam Hadits di atas adalah indikasi  yang menunjukkan, bahwa perilaku semacam itu telah diharamkan oleh Rasulullah. Sehingga lebih tepat jika laki-laki yang meniru wanita disebut sebagai pelaku maksiat; bukan beralasan dengan takdir dan kodrat!


Ia Bagian dari Budaya Barat

Maraknya kampanye legalisasi keberadaan waria dan kaum homoseksual (termasuk di dalamnya Lesbianisme) menunjukkan gencarnya serangan budaya Barat ke negeri kita. Hal ini berdampak pada dua hal:

Pertama, setelah keberadaan mereka dipopulerkan lewat media televisi dalam sinetron atau iklan komersil, masyarakat jadi penasaran, ingin tahu banyak dengan kehidupan waria dan homoseksual. Dari asal-usulnya, suka-dukanya, kesehariannya, hingga masa depan mereka.

Liputan tentang diskriminasi terhadap mereka dikemas sedemikian rupa untuk memancing emosi dan perasaan simpati pemirsa. Ujung-ujungnya, informasi seputar mereka yang disuguhkan lebih diarahkan kepada legalisasi mereka di mata masyarakat.

Media mampu menyulap kebiasaan yang salah menjadi sesuatu yang lumrah. Waria dan homoseksual dijadikan ‘produk hiburan’. Dengan berbagai cara bicaranya yang ‘kemayu’ maupun dengan ‘aksesorisnya’; lengkap dengan kata-kata dari ‘bahasa gaul’ yang parahnya cukup menarik dan mengundang gelak tawa. Dan setelah segala sesuatunya menjadi lumrah, maka pada akhirnya terjadi pergeseran sudut pandang dan sikap kaum Muslimin terhadap keberadaan mereka.

Kita seperti ragu-ragu kalau perilaku mereka itu keliru. Yang ada, kita seperti diberi pilihan secara tidak langsung untuk tidak peduli atau bahkan mendukung mereka. Sebab dalam kehidupan sekuler yang banyak diopinikan media, kebebasan dalam berperilaku adalah hak individu (HAM) yang tidak bisa diganggu gugat! Dan menjadi bagian dari mereka, merupakan salah satu ekspresi kebebasan yang dimaksud. Jika ada yang tidak setuju, maka dilarang keras untuk mengganggu mereka. Termasuk tidak boleh aktif mengingatkan mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Apalagi sampai melarang atau memvonis mereka bersalah. Bisa-bisa kita malah berurusan dengan aparat keamanan, karena dianggap mengganggu kebebasan dan hak azazi orang lain.

Kedua, maraknya ekspos media terhadap waria dan homoseksual menjadi cara yang jitu yang dilakukan musuh-musuh Islam untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kampanye penerapan syariat Islam yang tengah gencar-gencarnya dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Aktivitas amar makruf nahyi munkar  pun terlupakan. Masyarakat semakin tidak peduli dengan berbagai permasalahan yang muncul akibat diterapkannya sistem sekuler. Jika dibiarkan, maka boleh jadi negeri kita akan semakin liberal; atau bahkan mungkin suatu saat nanti legalisasi perkawinan sejenis tidak cuma terjadi di Belanda, Spanyol, atau Kanada. Tetapi juga bakal terjadi di negara kita tercinta ini; yang berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia! Astaghfirullaah.

 

Perbedaan antara Waria dan Kaum Ho moseksual

Mungkin secara orientasi seksual keduanya sama, maksudnya sama-sama pecinta sesama jenis. Namun secara penampilan keduanya sungguh jauh berbeda!

Para waria lebih merasa bahwa mereka adalah wanita, meskipun mereka dilahirkan sebagai laki-laki. Untuk itu mereka secara penampilan akan berdandan layaknya seorang wanita; lengkap dengan berbagai aksesorisnya. Mulai dari berbicara (volume suara yang ‘lebih kecil’ ), pakaian (dari kepala hingga kaki), model rambut, jenis wewangian, juga cara mereka berjalan, dan seterusnya.

Sedangkan kaum homoseksual; dalam hal ini adalah sesama laki-laki, mereka secara pakaian dan fisik hampir tidak berbeda dengan penampilan laki-laki kebanyakan. Malah tidak sedikit di antara mereka memiliki wajah yang tampan atau macho, serta body  yang atletis! Namun berdasarkan pengamatan saya dan menurut cerita beberapa teman, ada ciri-ciri tertentu dari mereka yang dapat membedakannya dengan laki-laki tulen. Baik dari gerak-gerik, tatapan mata, cara mereka duduk, berjalan, dan seterusnya.

Lain halnya bagi kaum homoseksual sesama wanita atau lesbian. Secara fisik mereka jelas wanita, namun ada beberapa yang secara fisik ‘agak kasar’ atau bahkan nyaris ‘gagah’ layaknya laki-laki. Dan dalam ‘berhubungan’ biasanya ia lebih berperan sebagai ‘lelakinya’. Pasangan lesbiannya tentu saja seorang wanita yang ‘sangat wanita’ secara fisik, maksudnya adalah, ia seperti layaknya wanita sejati, namun memiliki orientasi seksual kepada sesama jenis.

Ada juga pasangan lesbian yang keduannya secara fisik wanita sejati, namun orientasi seksualnya hanya kepada sesama jenis.

Ciri-ciri di atas hanyalah pengamatan dari luar semata dan semuanya itu bersifat relatif; tetapi paling tidak mendekati sebenarnya.

 

Kaum Nabi Luth ‘Alaihis Salam dan Peradabannya

Dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala  pada ayat mukadimah  di atas jelaslah sudah bagi kita semua, bahwa sejarah peradaban kaum Homoseksual telah muncul jauh sebelum masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yakni tepatnya terjadi pada masa Nabi Luth ‘Alaihis Salam  yang diutus untuk kaum Sadoum  (Sodom).   Hampir semua kitab tafsir mengabadikan kisah tersebut ketika menyingkap kandungan ayat-ayat yang berkaitan dengan kisah Nabi Luth ‘Alaihis Salam.

Dan ayat-ayat di atas secara gamblang menjelaskan, bahwa agama kita yang agung dan mulia ini sangat mengutuk sekaligus melaknat segala praktik yang berkaitan dengannya, karena bertentangan dengan kodrat alami dan watak normal manusia.

 

Kaum Homoseksual dan Tinjauan Fikih

Dalam kaidah keilmuan Islam; khususnya fikih, praktik homoseksual termasuk lesbian dalam Islam sering disebut al-faahisyah  (dosa besar) yang sangat menjijikkan dan bertentangan dengan kodrat dan tabiat manusia. Oleh karenanya para ulama sangat mengutuk, mengecam, dan mengharamkannya.

Kalau ditelusuri secara gramatikal (bahasa) tidak ada perbedaan penggunaan kata antara homoseksual dan lesbian. Dalam bahasa arab kedua-duanya dinamakan al-liwath. Pelakunya di namakan al-luthiy (lotte). Namun Imam Al-Mawardi Rahimahullah  membedakannya secara terpisah. Beliau menyebut homoseksual dengan liwath  dan lesbian dengan sihaq atau musaahaqah. (lihat: al-hawi al-kabir, karya Al-Mawardi: Juz:13, Hal:474-475).

Imam Al-Mawardi  dan Ibn Qudamah Al-Maqdisi Rahimahumullah  menyebutkan, bahwa penetapan hukum haramnya praktik homoseksual adalah Ijma’  (kesepakatan) ulama, berdasarkan nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Mereka dalam hal ini berbeda pendapat mengenai jenis dan bentuk hukuman yang dikenakan kepada pelakunya. Itu timbul karena perbedaan dalam meng-interpretasi -kan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, Hadits, dan Atsar (Fakta sejarah sahabat).

Ayat-ayat di atas (Al-A’raf:80-84 dan Hud:82-83) secara jelas berisi kutukan dan larangan Allah ‘Azza wa Jalla  terhadap pelaku praktik homoseksual. Itu juga diperkuat oleh Hadits-hadits berikut: Hadits riwayat Ibn Abbas Radhiyallahu ‘Anhu:

“Siapa saja yang engkau dapatkan mengerjakan perbuatan homoseksual maka bunuhlah kedua pelakunya.” (ditakhrij oleh Abu Dawud 4/158 , Ibn Majah 2/856 , At Turmuzi 4/57 dan Darru Quthni 3/124).

Hadits dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu:

“Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth.” (HR. Ibnu Majah : 2563, 1457. Tirmidzi berkata: Hadits ini Hasan Gharib, Hakim berkata, Hadits Shahih Isnad).

Hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu:

“Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali).” (HR. Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322 No. 7337).

Perbedaan atsar  (dalam hal ini penyikapan; baik dengan kata atau perbuatan) para sahabat adalah dalam menentukan jenis hukuman yang dikenakan kepada pelaku. Di antara perbedaannya adalah; membakarnya dengan api, menindihnya dengan dinding, dijatuhkan dari tempat yang tinggi sambil menimpuknya dengan batu, ditahan di tempat yang paling busuk sampai mati.

Para ulama fikih setelah menyepakati haramnya praktik homoseksual dan lesbian, mereka hanya berbeda pendapat mengenai hukuman yang layak diberlakukan kepada pelaku. Perbedaan hanya menyakut dua hal:

Pertama, perbedaan sahabat dalam menentukan jenis hukuman, sebagaimana tersebut di atas.

Kedua, perbedaan ulama dalam mengkategorikan perbuatan tersebut, apakah dikategorikan zina atau tidak? Dan itu berimplikasi terhadap kadar atau jenis hukuman yang akan dikenakan.


Pendapat Mengenai Hukuman Bagi Mereka

Imam Abu Hanifah Rahimahullah  berpendapat, bahwa praktik homoseksual (termasuk lesbian) tidak dapat dikategorikan sebagai perbuatan zina dengan alasan:

Pertama, karena tidak adanya unsur (kriteria) kesamaan antara keduanya. Unsur menyia-nyiakan anak dan ketidakjelasan nasab  (keturunan) tidak didapatkan dalam praktik homoseksual.

Kedua, berbedanya jenis hukuman yang diberlakukan para sahabat (sebagaimana di atas). Berdasarkan kedua alasan ini, Abu Hanifah berpendapat bahwa hukuman terhadap pelaku homoseksual adalah ta’zir  (diserahkan kepada penguasa atau pemerintah). (al hidayah syarhul bidayah 7/194-196, fathul qadir juz:11, hal:445-449 dan al mabsuth juz:11, hal:78-81).

Menurut Syaikh Muhammad Ibn Al-Hasan As-Syaibani dan Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) Rahimahumullah:  praktik homoseksual dikategorikan zina, dengan alasan adanya beberapa unsur kesamaan antara keduanya, seperti:

Pertama, tersalurkannya syahwat pelaku.

Kedua, tercapainya kenikmatan (karena penis dimasukkan ke lubang dubur).

Ketiga, tidak diperbolehkan (diharamkan) dalam Islam.

Keempat, menumpahkan (menya-nyiakan) air mani.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut, Muhammad Ibn Al-Hasan dan Abu Yusuf berpendapat, bahwa hukuman terhadap pelaku homoseksual sama seperti hukuman yang dikenakan kepada pezina, yaitu: kalau pelakunya muhshan  (sudah menikah), maka dihukum rajam (dilempari dengan batu sampai mati), kalau gair muhshan  (perjaka/single), maka dihukum cambuk dan diasingkan selama satu tahun. (dalam al hidayah syarhul bidayah 7/194-196, fathul qadir juz:11, hal:445-449 dan al mabsuth juz:11, hal:78-81).

Menurut Imam Malik Rahimahullah  praktek homoseksual dikategorikan zina dan hukuman yang setimpal untuk pelakunya adalah dirajam, baik pelakunya muhshan  (sudah menikah) atau gair muhshan  (perjaka). Ia sependapat dengan Ishaq bin Rahawaih dan As Sya’bi Rahimahumullah. (minahul jalil, juz:19, hal:422-423).

Menurut Imam Syafi’i Rahimahullah,  praktik homoseksual  merupakan hubungan seksual terlarang dalam Islam. Hukuman untuk pelakunya: kalau pelakunya muhshan  (sudah menikah), maka dihukum rajam. Kalau gair muhshan  (bujang), maka dihukum cambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun. Hal tersebut sama dengan pendapat Said bin Musayyib, Atha’ bin Abi Rabah, An Nakha’i, Al-Hasan dan Qatadah Rahimahumullah. (al-majmu’ juz:20, hal:22-24 dan al-hawi al-kabir, juz:13 hal:474-477).

Menurut Imam Hambali Rahimahumullah, praktik homoseksual dikategorikan zina. Mengenai jenis hukuman yang dikenakan kepada pelakunya beliau mempunyai dua riwayat (pendapat):

Pertama, dihukum sama seperti pezina, kalau pelakunya muhshan  (sudah menikah), maka dihukum rajam. kalau pelakunya gair muhshan  (bujang), maka dihukum cambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun. (pendapat inilah yang paling kuat).

Kedua, dibunuh dengan dirajam, baik dia itu muhshan  atau gair muhshan. (al furu’, juz:11, hal:145-147, al mughni juz :10 hal:155-157 dan al inshaf, juz:10, hal:178).

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa di antara landasan hukum yang mengharamkan praktik homoseksual dan lesbian adalah Ijma’.

 

Ijma’ Sebagai Konsep Hukum

Kalau kita kaji referensi-referensi yang menjadi sumber dasar penetapan hukum Islam, maka di antara instrument  hukum tersebut adalah Ijma’. Posisi kekuatannya sebagai sumber hukum menempati urutan ketiga setelah: Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ijma’ lahir dan muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ijma’ merupakan kesepakatan pendapat para mujtahid   (ahli ijtihad) setelah wafatnya Rasulullah terhadap suatu kasus hukum dalam suatu masa.

Penentu suatu hukum sudah menjadi Ijma’ atau belum adalah muncul dari para mujtahid  (ahli ijtihad) yang berkompeten dalam bidangnya. Tentunya mereka bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang memiliki syarat-syarat baku yang mendukungnya untuk memahami nash-nash   (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan mengaitkannnya dengan realita, seperti menguasai ilmu-ilmu seperti bahasa Arab, maqasidus syari’ah, fikih dan ushul fikih, ilmu tafsir, dan lain sebagainya disebutkan dalam ushul fikih.

Sekalipun pintu ijtihad selalu terbuka, tetapi untuk urusan hukum, tidak semua orang bisa mengklaim dirinya mujtahid  atau menganggap siapa saja boleh berijtihad. Apalagi merubah hukum yang sudah pasti kebenarannya.

Haramnya homoseksual dan lesbian ini, sudah menjadi Ijma’ (ketetapan ) ulama Islam. Artinya, tak ada di antara mereka yang berselisih. Jadi, tidak ada seorang ulama pun yang berpendapat tentang kehalalannya. Dan itu sudah menjadi ketetapan hukum sejak masa Rasulullah, sahabat, sampai hari kemudian. Jadi tidak bisa ‘diganggu-gugat’ lagi, apalagi dengan justifikasi rasional.

Islam meyakini, bahwa segala perintah dan larangan Allah (baik yang berupa larangan atau perintah); tidak lain bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan hidup manusia di dunia dan akhirat. Demikian pula, termasuk tujuan pelarangan praktik homoseksual dan lesbian yang dimaksudkan untuk ‘memanusiakan’ manusia dan menghormati hak-hak mereka.

Bagaimana Sikap Kita Terhadap Waria

Dalam menyikapi atau memperlakukan waria yang mudah dikenali jenis kelaminnya; baik melalui tanda-tandanya setelah baligh dengan melihat perubahan pada organ-organ tubuhnya atau pada tempat keluar air seninya. Apabila ia masih anak-anak; jika yang dominan dan tampak dalam dirinya adalah tanda-tanda laki-lakinya, maka diberikan hukum laki-laki kepadanya; baik dalam pemandiannya saat meninggal, shaf  shalatnya maupun warisannya. Begitu pula apabila yang tampak dan dominan dalam dirinya adalah tanda-tanda wanitanya, maka diberikan hukum wanita terhadap dirinya.

Adapun terhadap waria yang sulit dikenali jenis kelaminnya, maka Imam Al-Kasani Rahimahullah  mengatakan:

“Jika dia meninggal dunia, maka tidak halal bagi kaum laki-laki untuk memandikannya, karena ada kemungkinan dia seorang wanita. Dan tidak dihalalkan bagi kaum wanita untuk memandikannya, karena ada kemungkinan dia seorang laki-laki, akan tetapi cukup ditayamumkan. Orang mentayamumkannya bisa laki-laki atau wanita, jika yang mentayamumkannya adalah dari kalangan muhrim-nya, maka bisa dilakukan tanpa menggunakan kain. Namun apabila bukan dari muhrim-nya, maka harus menggunakan kain serta menutup pandangannya dari tangannya (siku hingga ujung jarinya). Adapun berdirinya di dalam shaf shalat, maka hendaklah dia berdiri setelah shaf kaum laki-laki dan anak-anak; sebelum shaf kaum wanita. Dia tidak diperbolehkan mengimami kaum laki-laki, karena ada kemungkinan dia seorang wanita, akan tetapi dia boleh mengimami kaum wanita.”

Penutup:

Kembali kepada Islam

Sampai kapanpun agama kita tidak akan pernah mentolerir keberadaan mereka di tengah masyarakat kita. Meski media massa tertentu mengopinikan, kalau menjadi waria dan homoseksual itu adalah bagian dari kodrat, namun Islam tetap melihatnya sebagai perilaku maksiat.

Aturan hidup sekuler telah memanjakan manusia untuk berbuat seenaknya. Penyaluran yang salah dari potensi yang dimiliki manusia dalam peradaban Barat lebih populer dibanding cara yang benar. Sehingga tidak heran kalau gaya hidup: sex bebas, homoseks, lesbian, atau waria merajalela di Eropa. Bahkan sekarang dengan teknologi internet (walaupun dampak positifnya juga luar biasa besar) yang telah menjadi kebutuhan sehari-hari, hal ini ikut membantu menyuburkan perilaku maksiat mereka ke tengah-tengah masyarakat kita. Sebab mereka pikir lebih baik mati-matian mereguk kepuasan dunia daripada setengah hidup menahan hasrat demi kehidupan akhirat.

Baru-baru ini terdengar kabar di beberapa negara Eropa seperti: Belanda, Belgia, Spanyol, dan Kanada, pemerintahnya melegalkan perkawinan sejenis. Seolah melestarikan keberadaan kaum homoseks dan lesbian. Padahal lebih dari 500.000 umat Katolik telah berkampanye; dengan didukung oleh sekitar 20 Uskup senior untuk menentang hukum baru di Spanyol yang mengesahkan perkawinan sesama jenis tersebut. Tapi tetap saja pemerintah Spanyol sepertinya tidak menggubrisnya.

Di sinilah pentingnya kita kembali kepada ajaran Islam sebagai jalan kebaikan yang sudah dijamin keselamatannya di dunia dan akhirat oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam kasus waria dan homoseksual (lesbianisme), Islam mengajarkan agar orang tua mendidik anak-anaknya sesuai dengan kodratnya. Perlahan-lahan diperkenalkan hukum-hukum (syariat) Islam sesuai dengan jenis kelaminnya. Ketika beranjak dewasa, diajarkan untuk menutup aurat secara sempurna dan menjaga pergaulan dengan lawan jenis. Karena peran orang tualah sebagai ‘benteng pertahanan’ yang pertama, sekaligus yang paling akurat untuk mencegah perilaku maksiat dan perilaku yang menyimpang bagi anak-anaknya. Jika di rumah anak-anak sudah didik secara Islami dengan baik, Insya Allah moral dan mental mereka tidak akan salah langkah.

Dan peran negara dalam hal ini, membentuk lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak sesuai dengan kodratnya. Di antaranya dengan mencegah masuknya peradaban Barat yang merusak moral dan akidah melalui media massa cetak maupun elektronik.

Saat ini, sikap terbaik yang harus kita tunjukkan terhadap waria dan kaum homoseksual/lesbian bukanlah dengan kebencian, tapi dengan ‘cinta’. Wujud cinta kita pada mereka adalah dengan mengajak mereka untuk meninggalkan status mereka itu ke jalan yang diridhai oleh Allah Ta’ala.

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ – وَاَللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Catatan:

Diolah dari tulisanku dan dipadukan dari berbagai sumber. Terima kasih yang tak terhingga untuk sahabatku; yang telah mengilhamkan dan menyarankan aku untuk menulis tentang Note ini. You know who you are! Jazakillah khayr wa barakallahu fiik.

Note ini tidak dimaksudkan untuk: menyudutkan atau mendeskreditkan atau mencibir atau apapun namanya; bagi saudara-saudara kita yang kebetulan mempunyai ‘kelainan’ fisik (dari lahir maupun karena kesadarannya sendiri) maupun orientasi seksual sebagai pencinta sesama jenis (homoseksual: hubungan sex sesama laki-laki atau sesama wanita/lesbian). Namun ditujukan untuk lebih membukakan wawasan kita mengenai hal ini; terutama pandangan di dalam agama Islam.

Tujuan dibuatnya Note ini adalah satu bentuk penyadaran terhadap mereka untuk menjadi laki-laki atau wanita tulen. Inilah wujud cinta kita kepada mereka. Jika kita tidak peduli, maka kita secara tidak langsung sudah ikut andil menyebarkan faham yang salah tentang mereka; sekaligus mempercepat turunnya azab Allah Ta’ala, sesuai dengan mukadimah  firman Allah Subhanahu wa Ta’ala  di atas. Juga selain itu, kita juga harus terus berupaya menyadarkan masyarakat untuk ber-amar makruf nahyi munkar, dan meminta negara untuk menerapkan aturan Islam. Tentunya kita semua sudah lelah hidup sengsara di bawah naungan kapitalisme-sekularisme.

Mari bersama-sama berperan aktif, misalnya jika kita mempunyai teman, sahabat, keluarga, dan seterusnya, yang laki-laki yang ‘agak-agak feminin’ atau teman, sahabat, keluarga, dan seterusnya, yang wanita yang ‘agak-agak maskulin’, maka ajaklah mereka (dengan niat yang baik, cara yang santun, dan dengan ‘sentuhan’) untuk berpikir lebih jernih tentang kodratnya sebagai laki-laki atau wanita sejati! Bukan dijauhi atau malah dikucilkan! Agar mereka tidak terjerumus ke dalam dunia waria dan homoseksual/lesbian tersebut. Serta jangan lupa untuk memperkenalkan aturan Islam kepada mereka. Karena hanya aturan Islam-lah yang akan membebaskan manusia dari kebodohan dan kesesatan.

Tidak ada seorang pun yang tahu, apabila saat ini kita dalam ketaatan kepada Allah; akan senantiasa dalam ketaatan kepada-Nya hingga akhir hayat kita. Juga tidak ada seorang pun yang tahu, apabila kita dalam kesesatan dari jalan Allah; akan terus dalam kesesatan hingga akhir hayat kita!

Semoga kita semua tetap mendo’akan saudara-saudara kita yang kebetulan ‘berbeda’ dengan kita tersebut. Semoga mereka semua mendapatkan rahmat serta hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala  agar mau kembali ke jalan agama-Nya yang lurus. Jadi, sudah selayaknya bagi kita untuk tidak merasa lebih mulia dibandingkan dengan mereka! Karena pada hakikatnya, kita semua tidak ada yang tahu bagaimana akhir dari ‘episode’ kehidupan kita masing-masing di dunia ini. Semoga bermanfaat dan menjadi i’tibar  bagi kita semua, menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menambah wawasan, sekaligus pengetahuan kita semua.

Shalawat dan salam semoga Allah Ta’ala  curahkan atas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga kepada para keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya, termasuk kita sekalian hingga yaumul hisab. Laahaula walaa quwwata illaabillahil ‘aliyyil ‘azhiim. Yaa Allaah bihaa.. Yaa Allaah bihaa.. Ya Allaah bi khusnul khaatimah.

Aamiin Ya Kariim.

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ – وَاَللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Jazakumullah khayran katsiira wa barakallahu fiikum.

Salam ukhuwah selalu.


Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>